Blog

Beragam Tips dan Inspirasi Untuk UMKM Indonesia

Fenomena "Doom Spending": Mengapa Gen Z Sulit Punya Tabungan & Bagaimana Cara Mengatasinya?

 06 Maret 2026
 GenZ, Keuangan, TipsMenabung, SelfReward, LiterasiFinansial
Fenomena

Bagi generasi sebelumnya, menabung adalah tiket menuju kemandirian ekonomi. Namun bagi Gen Z, menabung seringkali terasa seperti misi mustahil.

Istilah "Doom Spending"—kebiasaan menghabiskan uang untuk kepuasan instan karena merasa masa depan ekonomi terlalu suram—mulai menjadi tren. Tapi, apakah benar Gen Z hanya sekadar boros, atau ada realita lain yang menjepit mereka?

Mengapa Menabung Terasa Sangat Sulit bagi Gen Z?
1. Jebakan "Experience Economy" (Ekonomi Pengalaman)
Berbeda dengan generasi terdahulu yang fokus pada aset fisik, Gen Z cenderung lebih menghargai "pengalaman". Konser musik, staycation, hingga mencoba kafe baru yang sedang viral dianggap sebagai investasi pada kebahagiaan mental. Masalahnya, biaya untuk mendapatkan pengalaman ini seringkali tidak murah dan jika tidak dikontrol, dapat menguras pendapatan bulanan dengan cepat.

2. Tekanan Media Sosial (FOMO)
Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh besar dengan media sosial sebagai standar hidup. Paparan gaya hidup mewah, liburan estetik, hingga budaya self-reward yang berlebihan menciptakan tekanan psikologis untuk selalu tampil "cukup" di mata orang lain. Rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out) inilah yang sering memicu pengeluaran impulsif.

3. Biaya Hidup yang "Invisible"
Langganan streaming film, musik, aplikasi kerja, hingga biaya transportasi online adalah pengeluaran kecil yang tidak terasa namun jika ditotal bisa mencapai angka yang signifikan per tahun. Ini adalah biaya hidup era digital yang bersifat langganan (subscription) yang secara otomatis memotong saldo rekening tanpa disadari.

Strategi Biar Tabungan Gak Sekadar "Numpang Lewat"
Jika kamu merasa termasuk dalam kelompok yang susah menabung, coba ubah pendekatanmu dengan cara berikut:

1. Pakai Aturan 50/30/20 yang Dimodifikasi
Jangan memaksakan menabung langsung dalam jumlah besar di awal. Gunakan alokasi sederhana:

50% untuk kebutuhan pokok (makan, transportasi, tagihan).

30% untuk keinginan (hiburan dan hobi).

20% untuk tabungan atau dana darurat.
Jika 20% dirasa terlalu berat, mulailah dari angka kecil seperti 5% atau 10%, yang penting adalah membangun kebiasaan konsistensi.

2. Audit Langganan Digital Secara Berkala
Coba cek mutasi rekeningmu setiap akhir bulan. Berapa banyak layanan aplikasi yang jarang kamu gunakan tapi tetap memotong saldo? Membatalkan satu atau dua langganan saja bisa menambah ruang napas bagi keuanganmu tanpa harus merasa kekurangan.

3. Terapkan "Pause" Sebelum Check-out
Sebelum melakukan pembelian impulsif (terutama saat belanja online), cobalah untuk menunggu selama 24 jam. Biasanya, setelah waktu tersebut berlalu, keinginan emosional untuk membeli barang tersebut akan menurun dan kamu bisa berpikir lebih rasional apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Kesimpulan: Menabung bukan tentang seberapa besar gajimu, tapi tentang seberapa besar kendali yang kamu miliki atas pengeluaranmu sendiri. Di tengah kondisi dunia yang cepat berubah, memiliki cadangan dana adalah bentuk perlindungan terbaik untuk ketenangan pikiran di masa depan.

Dapatkan Kasmini

Punya pertanyaan atau ingin langsung memakai Aplikasi Kasmini untuk mudahkan bisnismu?

Beli Sekarang
kasmini-license